Posted in Uncategorized

Siapkan masa depanmu

Kalau kamu tidak berubah, itu boleh saja. Tapi sebenarnya semua orang akan berubah dan selalu berubah. Hidup itu bisa disebut putaran perubahan.

Apa kamu harus mendapat apa saja yang kamu harapkan? Apa itu bisa jadi kenyataan? Aku yakin tidak. Mimpi sih boleh dan memang wajar saja kalau orang memiliki impian.

Apa yang ada di depan perlu jadi perhatian. Kamu pasti setuju kalau hari ini adalah ladang amal dan kita harus beramal. Hari ini bisa saja kamu anggap sebagai medan latihan, yaitu wahana kamu mengembangkan diri. Inilah saatnya kamu bersiap sedia menghadapi masa depan.

Advertisements
Posted in Uncategorized

WA ta WA

وَالْعَصْرِ

“Demi masa.”

إِنَّ الْإِنْسٰنَ لَفِى خُسْرٍ

“Sungguh, manusia berada dalam kerugian,”

إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”

#qaulanbaligha

Posted in Uncategorized

​Istiqomah, you say?


Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Sekedar peribahasa yang aku kantongi sebagai guru bahasa. Mau tanya artinya? Jangan kepada aku. Tanyakan saja kepada siapa yang mengakui aku sebagai gurunya. Kalau tidak mau atau tidak berani menjawab, jangan dianggap dia muridku.

Pengalaman menjadi guru bahasa sekian tahun lamanya bukan membuat aku lebih hebat ternyata. Aku banyak tidak paham mengapa tidak begitu banyak orang yang pintar dalam berbahasa meskipun dilihat dari usianya mereka semakin udzur. Ada banyak contoh yang bisa ditemui di sekitar kita. Ada banyak kejadian dalam keseharian kita yang membuat orang  merasa ngeri mengamati konteks dalam berbahasa. Bahasa yang bagus adalah bahasa kebersamaan. Tidak berpihak dan bersifat menyelamatkan. 

Bahasa adalah lingua franca. Bahasa itu ada maknanya kalau bisa mengikat dua pihak atau lebih untuk menjalin rasa pertalian yang lebih baik.

Terlalu panjang preamble ini. Aku juga merasakan. Baiknya aku kembali kepada mengapa orang yang ada dalam cerita ini sempat mengatakan istiqomah. Aku tidak menyalahkan apapun yang dia sebutkan tentang pribadiku. Tapi, sebagai orang yang baru kenal sehari dua hari, kata pilihan ‘istiqomah’ itu jadi pemicu pilihan pembicaraan. Aku tidak mau mengada-ada. Namun pikiranku yang terlatih dalam berbahasa membuat aku protes keras. Apa aku tidak pernah istiqomah? Satu persoalan yang tidak adil sudah diputuskan. Aku menguraikan tentang lurusnya persoalan. Selanjutnya apakah aku harus istiqomah dalam satu persoalan yang tidak adil?

Usia kita bertambah. Ilmu kita semakin menumpuk. Posisi serta status sosial akan beraneka ragam pada waktunya. Tetapi ukuran kita tetap manusia. Kalau hanya sekedar ngomong, banyak orang pintar dalam bidangnya. Apakah kita akan mengikuti tata cara berbahasa dari orang yang tidak istiqomah menjadi manusia? Sayang kalau itu terjadi.

Manusia ternyata bukan statusnya. Ada banyak kaitannya kalau urusan yang kita bahas adalah urusan manusia. 

Mau istiqomah bagaimana? Sementara aku merasakan satu persoalan yang jauh menyimpang dari rasa adil. Janganlah aku dibebani dengan satu amanat yang aku tidak sanggup menjalani. Berat.
#akumaubahagia

Posted in Uncategorized

Lupa

Tempat kita adalah salah dan lupa. Bisa jadi kita yang salah saja. Tidak mustahil juga kia sedang lupa. Atau, parah lagi, kita ini salah tapi lupa kalau kita banyak salah. 

Sebagai guru, maksudku mantan guru, salah bisa diperbaiki dengan mengerjakan ulang dengan baik dan menjadi benar. Dari salah ini kita bisa belajar memperbaiki. Kalau lupa, kita bisa mengingatkan persoalan yang benar dan belajar mengingat kembali. 

Sayangnya kita terlalu suka berbuat salah dan tidak mau diingatkan. Merasa benar sendiri. 

Posted in Sahabat

Menjadi guru bahasa Inggris

 

Apapun jadinya, ternyata tidak selalu seperti yang kita inginkan. Terlalu banyak yang di luar jangkuan pikiran kita. Gambarannya juga tiba-tiba seperti puisi yang aku petik begitu saja di sebuah website

“I Am Not Yours”
by Sara Teasdale
I am not yours, not lost in you,
Not lost, although I long to be
Lost as a candle lit at noon,
Lost as a snowflake in the sea.

You love me, and I find you still
A spirit beautiful and bright,
Yet I am I, who long to be
Lost as a light is lost in light.

Oh plunge me deep in love — put out
My senses, leave me deaf and blind,
Swept by the tempest of your love,
A taper in a rushing wind.

Guru 8.0: Lost and Found
Guru 8.0: Lost and Found (Photo credit: Wikipedia)
Posted in Keluarga

Rejeki, Allah yang mengatur!


Tulisan ini adalah penegasan dari apa yang sangat aku percaya. Dengan berbagai alasan, aku juga ingin mengabarkan kepada istriku, anak-anakku dan sahabat yang sempat membaca tulisan ini. Masalah yang aku pertegas adalah rejeki yang harus kita syukuri, semuanya berasal dari Allah yang maha memberi rejeki.

Kita akan selalu hidup apa adanya. Kita dibekali dengan rejeki nyata, persis seperti apa yang ditetapkan oleh Allah yang maha mencipta. Dengan tambahan kenyataan, ternyata sebagian dari kita tidak menyadari masalah ini. Sempat-sempatnya, kita merasa kurang saja dengan apa yang kita terima. Namun, tulisan ini bukan untuk berkeluh-kesah.

Suatu saat, ada kejadian di banyak tempat, beberapa orang berusaha mengatur rejeki orang lain. Mereka, dalam kasus ini, maunya berperanan sebagai pembagi rejeki–berhak menambah dan mengurangi sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Untuk orang lain diperkecil, dan untuk diri sendiri atau kelompoknya, mereka banyak melebihkan. Di sini berlaku hukum adil dan tidak adil. ‘Tergantung siapa yang mengatur,’ kata teman-teman yang agak tanggap.

Aku masih yakin kalau Allah yang mengatur rejeki kami semua. Tak peduli, apakah ada orang yang adil atau bahkan adanya orang tak adil yang memakan hak orang lain. Biarkan saja. Tetap Allah yang menentukan semuanya sebab Dialah yang maha memberi keadilan.

Semuanya sebenarnya sudah digariskan dalam kita perjalanan nasib setiap manusia. Semua hanya wajib percaya saja. Ketentuan manusia adalah berusaha sesuai dengan kemampuan yang ada. Allah juga tidak akan mengubah keadaan seseorang tanpa adanya usaha nyata dari orang yang bersangkutan. Duduk dan hanya berpangku tangan, meski ditambahi dengan doa, tidak diajarkan dalam agama